Mengetahui Waktu Istiwa’ Dan Zawalusamsy Permulaan Waktu Dzuhur Dan Masuknya Waktu Ashar Perspektif Madzahib Fikih

Oleh:

Ulia Dewi Muthmainah

 

Shalat adalah salah satu rukun dari rukun Islam yang lima, juga merupakan persoalan yang fundamental dan signifikan dalam Islam. Allah hanya memberikan petunjuk secara implisit saja,[1] namun demikian banyak hadits yang menjelaskan bagaimana teknis shalat tersebut.[2] Shalat merupakan ibadah yang dikhususkan dalam pengerjaannya, shalat juga merupakan Ibadah wajib yang ditentukan waktunya oleh syari’, ketentuaan ini berdasar al-kitab, as-Sunnah dan Ijma’.

Oleh karena di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya, yaitu di awal waktu, selain waktu tertentu yang dikecualikan.[3] Maka penentuan awal waktu shalat (yang merupakan bagian dari ilmu falak) menjadi sebuah keharusan dimana perhitungannya ditetapkan berdasarkan garis edar matahari atau penelitiaan posisi matahari terhadap bumi. Sehingga meng-hisab waktu shalat pada dasarnya adalah menghitung kapan matahari akan menempati posisi tertentu yang sekaligus menjadi penunjuk waktu shalat, yaitu pada saat tergelincir, saat membuat bayang-bayang sama panjang dengan bendanya, saat terbenam, saat hilangnya mega merah, saat terbitnya fajar dan terbit. Sehubungan dengan itu, saat matahari berkulminasi (mencapai titik puncak) seringkali juga dijadikan pedoman dalam menghisab setiap awal atau akhir waktu shalat. Begitu juga dengan persoalan berapa lama waktu yang diperlukan oleh matahari untuk bergerak dari titik kulminasi sampai kepada posisi awal atau akhir waktu shalat yang dicari.[4]

Maka makalah ini sebagai salah satu tema bahasan dalam mata kuliah Fikih Muqarin dalam konsentrasi studi Ilmu Falak program pasca sarjana secara khusus membahas Istiwa’ dan Zawalusyamsyi serta Permulaan Waktu Dzuhur dan Masuknya Waktu Ashar dalam Perspektif Madzahib Fikih.

Pengertian

  1. 1.         Istiwa’

Istiwa’ merupakan bentuk masdar dari fi’il istawa – yastawi – istiwaan yang berarti lurus. Menurut Rohi Balbaki dalam al-Maurid, istiwa’ secara etimologi yaitu straigtness, equality, atau equator.[5]

Sedang menurut terminologis yakni ketika matahari melewati garis langit yang menghubungkan utara dan selatan. Ada tiga kemungkinan arah bayangan benda yang berdiri tegak.

  1. Pertama : arah bayangan berada di utara benda tersebut, yaitu ketika matahari melintasi zenit, posisinya beada di belahan langit selatan, azimuth 180˚.
  2. Kedua : arah bayangan berada di utara benda tersebut, yaitu ketika matahari melintasi zenit, posisinya beada di belahan langit selatan, azimuth 0/360˚.
  3. Ketiga : tidak ada bayangan sama sekali, yaitu ketika matahari melintasi zenit, posisinya berada di atas zenit yakni posisi matahari berada pada sudut 90˚ diukur dari ufuk.[6]

Pada saat Kondisi pertama dan kedua, bayangan suatu benda sudah ada pada zawal, sehingga masuknya waktu dzuhur adalah bertambah panjangnya bayangan suatu benda tersebut sesaat setelah zawal. Pada kondisi ketiga, pada saat istiwa’, suatu benda yang berdiri tega tidak menimbulkan bayangan sedikitpn, sehingga masuknya waktu zuhur adalah ketika terbentuknya bayangan suatu benda sesaat setelah istiwa’.[7]

 

 

  1. 2.         Zawalusamsy

Secara etimologi kata zawalusyamsi terdiri dari penggalan zawal berarti tergelincir dan as-syams berarti matahari. Sehingga jika digabungkan menjadi “matahari tergelincir”. Secara terminologi istilah zawalusyamsi adalah waktu dimana posisi matahari tergelincir dari pusat langit.[8]

 

Dalil Syar’i

Allah telah menjelaskan dalam al-Quran surat an-Nisa’ ayat 103 bahwa shalat yang diwajibkan itu mempunyai waktu tertentu, sehingga tidak dapat dilakukan disembarangan waktu tanpa ada alasan yang membolehkan ,

 

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا …

“sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”  (QS. an-Nisa’: 103).

 

Akan tetapi disana Allah tidak menjelaskan secara rinci waktu-waktu shalat fardlu tersebut,  Al-Quran hanya mengisyaratkan, dan dalam ayat lain juga dijelaskan dalam surat Hud ayat 114, al-Isra’ ayat 78 dan surat Thaha ayat 130, yang berbunyi:

 

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِين

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS : Hud: 114)

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isyra’ : 78)

 

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آَنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى

 

“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang” (QS Thaha: 130)

 

Ayat-ayat di atas semuanya berupa isyarat-isyarat waktu shalat bukan waktu yang diperinci, Kemudian Hadits Nabi yang menerangkan tentang waktu-waktu shalat adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Turmudzy dari jabir bin abdullah r.a sebagai berikut :

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ جِبْرِيْلَ اَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يُعَلّمُهُ مَوَاقِيْتَ الصَّلاَةِ، فَتَقَدَّمَ جِبْرِيْلُ وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَلْفَهُ وَ النَّاسُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى الظُّهْرَ حِيْنَ زَالَتِ الشَّمْسُ، فَاَتَاهُ حِيْنَ كَانَ الظّلُّ مِثْلَ شَخْصِهِ فَصَنَعَ كَمَا صَنَعَ فَتَقَدَّمَ جِبْرِيْلُ وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم  خَلْفَهُ وَ النَّاسُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى اْلعَصْرَ، ثُمَّ اَتَاهُ حِيْنَ وَجَبَتِ الشَّمْسُ فَتَقَدَّمَ جِبْرِيْلُ وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَلْفَهُ وَ النَّاسُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى اْلمَغْرِبَ، ثُمَّ اَتَاهُ حِيْنَ غَابَ الشَّفَقُ فَتَقَدَّمَ جِبْرِيْلُ وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَلْفَهُ وَ النَّاسُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى اْلعِشَاءَ، ثُمَّ اَتَاهُ حِيْنَ اِنْشَقَّ اْلفَجْرُ فَتَقَدَّمَ جِبْرِيْلُ وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَلْفَهُ وَ النَّاسُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى اْلغَدَاةَ ثُمَّ اَتَاهُ اْليَوْمَ الثَّانِيَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ مِثْلَ شَخْصِهِ فَصَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعَ فِى اْلاَمْسِ فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ اَتَاهُ حِيْنَ كَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ مِثْلَ شَخْصَيْهِ فَصَنَعَ كَمَا صَنَعَ فِى اْلاَمْسِ فَصَلَّى اْلعَصْرَ، ثُمَّ اَتَاهُ حِيْنَ وَجَبَتِ الشَّمْسُ فَصَنَعَ كَمَا صَنَعَ  بِاْلاَمْسِ فَصَلَّى اْلمَغْرِبَ، فَنِمْنَا ثُمَّ قُمْنَا ثُمَّ نِمْنَا ثُمَّ قُمْنَا، فَاَتَاهُ فَصَنَعَ كَمَا صَنَعَ بِاْلاَمْسِ فَصَلَّى اْلعِشَاءَ، ثُمَّ اَتَاهُ حِيْنَ اِمْتَدَّ اْلفَجْرُ وَ اَصْبحَ وَ النُّجُوْمَ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ فَصَنَعَ كَمَا صَنَعَ بِاْلاَمْسِ فَصَلَّى اْلغَدَاةَ. ثُمَّ قَالَ: مَا بَيْنَ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ وَقْتٌ. (النسائى(

Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : bahwasanya malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW mengajarkan waktu-waktu shalat (wajib). Lalu Jibril maju dan Rasulullah SAW berdiri di belakangnya, dan orang-orang berdiri di belakang Rasulullah SAW, lalu shalat Dluhur ketika matahari telah tergelincir. Kemudian Jibril datang kepada Nabi ketika bayangan seseorang sama panjangnya, lalu dia melakukan sebagaimana yang telah ia lakukan, Jibril maju dan Rasulullah SAW berdiri di belakangnya dan orang-orang berdiri di belakang Rasulullah SAW lalu shalat ‘Ashar. Kemudian Jibril datang lagi ketika matahari terbenam, Jibril maju dan Rasulullah SAW berdiri di belakangnya dan orang-orang berdiri di belakang Rasulullah SAW, lalu shalat Maghrib. Kemudian Jibril datang lagi kepada beliau ketika telah hilang cahaya merah, Jibril maju dan Rasulullah SAW berdiri di belakangnya dan orang-orang berdiri di belakang Rasulullah SAW, lalu shalat ‘Isyak. Kemudian Jibril datang lagi kepada beliau ketika terbit fajar, Jibril maju dan Rasulullah SAW berdiri di belakangnya, dan orang-orang berdiri di belakang Rasulullah SAW, lalu shalat Shubuh.  Kemudian pada hari kedua Jibril datang lagi kepada beliau ketika bayangan seseorang sama dengan panjangnya, lalu melakukan seperti yang telah dilakukan kemarin, lalu shalat Dluhur. Kemudian Jibril datang lagi kepada beliau ketika bayangan seseorang dua kali panjangnya, lalu melakukan sebagaimana yang telah dilakukan kemarin, lalu shalat ‘Ashar. Kemudian Jibril datang lagi kepada beliau ketika matahari terbenam, lalu melakukan sebagaimana yang dilakukan kemarin, lalu shalat Maghrib. Kemudian kami tidur, lalu bangun, lalu tidur lagi, lalu bangun, kemudian Jibril datang lagi kepada beliau, lalu melakukan sebagaimana yang dilakukan kemarin, lalu shalat ‘Isyak. Kemudian Jibril datang lagi kepada beliau ketika waktu fajar sudah lama dan sudah pagi tetapi bintang-bintang masih tampak jelas, lalu melakukan sebagaimana yang dilakukan kemarin, lalu shalat Shubuh. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Antara dua waktu shalat inilah waktunya shalat-shalat fardlu”. (HR. Nasa’i).[9]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَقْتُ الظُّهْرِ مَا لَمْ يَحْضُرِ اْلعَصْرُ وَ وَقْتُ اْلعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشّمْسُ وَ وَقْتُ اْلمَغْرِبِ مَا لَمْ يَسْقُطْ ثَوْرُ الشَّفَقِ وَ وَقْتُ اْلعِشَاءِ اِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ وَ وَقْتُ اْلفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ. )مسلم(

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Waktu Dluhur adalah selama belum tiba waktu ‘Ashar. Waktu ‘Ashar adalah selama matahari belum berwarna kuning. Waktu Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah. Waktu ‘Isyak adalah sampai tengah malam. Dan waku Shubuh adalah selama belum terbit matahari. (HR. Muslim).[10]

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَقْتُ الظُّهْرِ اِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَ كَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوْلِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ اْلعَصْرُ، وَ وَقْتُ اْلعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَ وَقْتُ صَلاَةِ اْلمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ وَ وَقْتُ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ اِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ اْلاَوْسَطِ وَ وَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوْعِ اْلفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ ).مسلم (

Dari ‘Adullah bin ‘Amr, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda. Waktu shalat Dluhur ialah manakala matahari sudah condong ke barat (hingga) bayang-bayang seseorang sama dengan panjangnya, dan selama belum tiba waktu ‘Ashar. Waktu ‘Ashar adalah selama matahari belum berwarna kuning. Waktu Maghrib adalah selama belum hilang mega atau awan merah. Waktu ‘Isyak adalah sampai tengah malam. Waktu Shubuh adalah sejak terbit fajar selama matahari belum terbit”. (HR. Muslim).[11]

 

Pendapat Fuqaha’ Tentang Waktu Istiwa’ Dan Zawalusamsy Permulaan Waktu Zuhur Dan Masuknya Waktu Ashar.

Bertolak dari ketentuan syar’i tentang waktu-waktu shalat di atas, yakni tergelincirnya matahari, panjang pendeknya bayang-bayang sesuatu, terbenam matahari, mega merah, fajar menyingsing, terbit matahari,  dan waktu yang digunakan untuk membaca 50 ayat, seluruhnya merupakan fenomena matahari. Oleh karena itulah, ilmu falak memahami bahwa waktu-waktu shalat tersebut didasarkan pada fenomena matahari, kemudian diterjemahkan dengan kedudukan atau posisi matahari pada saat-saat membuat atau mewujudkan keadaan-keaadaan yang merupakan pertanda bagi awal atau akhir waktu shalat.[12]

  1. 1.         Awal Waktu Zuhur

Ulama’ sepakat bahwa awal waktu shalat zuhur adalah ketika tergelincirnya matahari, dan yang dimaksud matahari tergelincir adalah condongnya matahari dari tengah langit atau waktu istiwa’,  Waktu istiwak adalah keadaan matahari ketika berada di antara timur dan barat.[13]

Sedangkan pada akhir waktu zuhur, ulama’ berbeda pendapat,  di antara yang berbeda adalah Imam Abu Hanifah, beliau berpendapat bahwa akhir dari waktu zuhur adalah ketika bayangan suatu benda dua kali dari panjang bendanya, waktu ini adalah masuk pada awal waktu ashar. keputusan ini diambil karena untuk kehati-hatian dalam bab Ibadah. sedangkan menurut Jumhur akhir waktu zuhur adalah ketika bayangan suatu benda sama panjang dengan bendanya[14].

 

  1. 2.         Awal Waktu Asar

Waktu ashar di mulai ketika berahirnya waktu dluhur, awal waktu ashar juga terdapat perbedaan di kalangan ulama’ fiqh. Menurut Jumhur awal waktu shalat ashar adalah ketika bayangan suatu benda lebih panjang dari bendanya meskipun lebih itu Cuma sedikit, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah adalah ketika bayangan suatu benda lebih panjang dari dua kali panjang bendanya.

Akhir waktu ashar adalah ketika menjelang terbenamnya matahari. Dalam hal ini ulama’ sepakat karena hadits Nabi SAW :

 

قال : مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ[15]

 

Ulama’ pula sepakat bahwa shalat ashar yang dilakukan ketika matahari menguning, maka hukumnya makruh. Karena Hadits Nabi yang berbunyi :

 

قال : وَقْتُ صَلاةِ الْعَصْرِ مَالَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ

Dari kedua Hadits di atas telah jelas bahwa waktu shalat ashar berahir ketika menjelang matahari terbenam. Oleh karenanya para fuqaha’ semua sepakat tentang ini.

Shalat ashar ini juga disebut shalat wustha sebagaimana hadits Nabi SAW ketika membacakan ayat al-baqarah ayat 238 :

 

 حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Yang dimaksud shalat wustha disana adalah shalat ashar, ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang berbunyi :

عن ابن مسعود و سمرة قالا : الصلاة الوسطى صلاة العصر [16]

Dikatakan shalat wustha karna shalat ashar ini berada di antara dua shalat siang dan dua shalat malam[17].

1)                       Imam Hanafi[18]

وروي ا عن الحسن ابى حنيفه رحمهما الله تعالى انه اذا صار الظل قامة يخرج وقت الظهر ولا يد خل وقت العصر حتى يصير الظل قامتين

 Masuknya awal waktu ashar itu ketika bayang-bayang benda tersebut ditambah dengan bayang dzuhur atau dua kali bayangan dari benda Pendapat ini diikuti Saadoe’ddin Jambek. Alasannya jika pendapat Imam Syafi’i yang digunakan akan menemukan kesulitan ketika membahas awal waktu Ashar di daerah-daerah kutub.[19]

2)                       Imam Maliki

Mengatakan bahwa ashar mempunyai dua waktu Pertama dimulai dari lebihnya (dalam ukuran panjang ) bayang-bayang suatu benda dengan tersebut sampai kuningnya matahari. Kedua Sinar matahari kekuning-kuningan sampai terbenamnya matahari.[20]

3)                       Imam Syafi’i[21]

قال الشافعى رحمه الله تعالى ووقت العصر فى الصيف اذا جاوز الظل كل شيء مثله بشيء ماكان وذلك حين ينفصل من اخر وقت الظهر

Awal waktu Ashar adalah bila bayang-bayang tongkat panjangnya sama dengan panjang bayangan waktu tengah hari ditambah satu kali panjang tongkat sebenarnya. Pendapat ini diikuti Hasbi ash-Shiddiqie.

4)                       Imam Hambali

Akhir waktu salat ashar adalah sampai bayang-bayang sesuatu lebih panjang dua kali dari panjang suatu benda. Dan pada saat itu boleh mendirikan salat ashar sampai terbenamnya matahari, hanya orang untuk salat pada waktu itu tetap dosa dan diharamkan sampai mengakhirkannya sampai pada waktu tersebut. Madzhab-madzhab lain tidak sependapat dengan pendapat di atas.[22]

 

 

 

 

5)                       Jumhurul ulama’.

Masuknya awal waktu salat ashar yaitu ketika berakhirnya waktu dzuhur atau ketika bayang-bayang suatu benda sama dengan benda tersebut dan berakhir ketika tebenamnya matahari,[23]

 

Tampaknya perbedaan awal waktu salat ashar yang paling menonjol dikalangan ulama’ adalah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Hanafi, dan setelah adanya penelitian, hasilnya menunjukkan bahwa

 

awal waktu Asar yang berlaku dibeberapa tempat penelitian di atas lebih condong terhadap pendapat Imam Syafi’i yaitu bermula apabila panjang bayang objek tegak (seperti tiang) sama dengan tinggi objek atau  tiang itu. Tetapi harus diingat keadaan itu jika ketika istiwa tiada bayang tiang itu. Sekiranya ketika istiwa ada bayang maka hendaklah ditambah dengan panjang bayang ketika istiwa.

Narasi  pendapat Imam Syafi’i terhadap masuknya waktu Ashar

(bayangan waktu ashar)

 

 

 

 

 

 

Gambar di atas menunjukkan ketika matahari berimpit dengan tongkat sehingga tidak ada bayangan matahari waktu kulminasi, dan awal waktu ashar yaitu ketika bayangan sama dengan panjang tongkatnya

 

 

 

 

(bayangan waktu kulminasi)

(bayangan waktu ashar)

 

 

 

 

 

Sedangkan gambar kedua menunjukkan ketika matahari di sebelah utara atau selatan titik zenith, sehingga waktu kulminasi ada bayangannya, dan waktu salat ashar yaitu ketika bayangan kulminasi ditambah panjang benda.

Bayang-bayang mempunyai panjang tertentu manakala matahari berkulminasi tidak tepat di atas tongkat (disebelah utara atau selatan titik zenith) kemudian berimpit bilamana matahari mencapai kulminasi atas tepat di atas tongkat (tepat pada titik zenith).

 

Gambar ketika bayang-bayang benda masuk waktu kulminasi menurut jam GPS

Gambar dimana bayang-bayang benda menunjukkan waktu ahsar

 

Dengan panjang bayangan  waktu kulminasi 5 cm dan panjang tongkat 16 cm maka masuk salat ashar ketika bayang 20 cm dan hal ini menunjukkan bahwa waktu salat ashar mengikuti pendapat Imam Syafi’i yaitu ketika panjang bayangan sama dengan bendanya.

 

Gambar bayangan maatahari ketika dua kali bayangannya

PENUTUP

Terdapat rumusan dari apa yang telah terpapar bahwa waktu zuhur dirumuskan sejak seluruh bundaran matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah lewat tengah hari.[24] Saat berkulminasi atas pusat bundaran matahari berada di meridian. Dalam realitasnya, untuk kepentingan praktis, waktu tengah cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam.[25] Namun demikian, di zaman maju dan kaya akan ilmu pengetahuan seyogyanya tingkat akurasi penentuan masuk dan keluarnya waktu shalat pada umumnya dan dzuhur dan ashar pd khususnya dalam pembahasan makalah ini tidak terlepas dari hadirnya kajian fiqih muqarin demi menangkap makna isyarat apa dan bagaimana manusia dapat melaksanakan ta’abudy secara tepat dan benar.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, Adzan Keutamaan, Ketentuan dan 100 Kesalahannya, (Pustaka Daarul Atsar, 2006).

Ahmad Fadoli, Hisab Waktu Shalat, makalah disampaikan dalam lokakarya imsakiyah Ramadlan 1432 H, Bangka Belitung, 15 Juli 2011.

Almanak Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama Republik Indonesia Tahun 2010.

Encup Supriyatna, Hisab Rukyat & Aplikasinyam (Bandung: Refika Aditama, 2007)

Hasbi ash-Shiddiqie. Pedoman Salat, cet. X , Jakarta : Bulan Bintang, 1978.

Imam Abi Abdillah Muhammad Bin Idris Asy-Syafi’I, Al-Umm, Beirut-Libanon : Dar Al-Kitab, Juz I, t.th.

Imam Muslim, Shahih Muslim, juz 1.

Imam Nasa’i, An-Nasai, juz 1.

Muhammad Jawa Mughniyyah, Fiqih Lima Madzhab, Diterjemahkan oleh Masykur dkk dari Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Khamsah, Jakarta : Lentera, cet VI, 2007.

Saadoe’ddin Jambek, Salat dan Puasa di daerah Kutub, cet. I, Jakarta : Bulan Bintang, 1974.

Slamet Hambali, Ilmu Falak II (Perhitungan awal bulan dan gerhana) Semarang: jes_sarung, 2010.

Syamsudin As-Sarakhsi, Kitab Al-Mabsuth Juz 1-2,  Beirut Libanon : Darul Kitab Al-Ilmiyah.

Wahbah Zuhaili, Fiqih al-Islam wa Adillatuhu Juz I (Beirut: Dar a-Fiqr, 1985).

 

 


[1] Lihat: Almanak Hisab Rukyat, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama Republik Indonesia Tahun 2010, hal. 22-23.

[2] Sesuai dengan salah satu fungsi hadits sebagai tabyin lil Qur’an, maka jumlah, cara dan waktu-waktu shalat dengan jelas diterangkan oleh hadits Nabi saw. Lihat: Almanak Hisab Rukyat, hal. 22-23.

[3] Pertama, yaitu shalat dhuhur ketika udara sangat panas menyengat maka yang afdhal adalah menunggu sampai suhu udara turun (berangsur dingin). Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:Artinya: “Bila udara sangat panas terik maka tunaikanlah shalat tatkala udara mulai dingin.” (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah). Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, Adzan Keutamaan, Ketentuan dan 100 Kesalahannya, (Pustaka Daarul Atsar: 2006) hal. 123-136

[4] Encup Supriyatna, Hisab Rukyat & Aplikasinya,

[5] Equinox adalah titik potong antara equator langit dengan ekliptika. Matahari mencapai titik ini setiap tahun pada sekitar tanggal 21 Maret (disebut vernal equinox) dan 22 September (disebut autum equinox).  Saat itu, siang dan malam akan tepat sama panjang. Lihat: Slamet Hambali, Ilmu Falak II (Perhitungan awal bulan dan gerhana) Semarang: jes_sarung, 2010, hlm. 191.

[6] Ahmad Fadoli, Hisab Waktu Shalat, makalah disampaikan dalam lokakarya imsakiyah Ramadlan 1432 H, Bangka Belitung, 15 Juli 2011.

[7] Ibid.,

[8] Wahbah Zuhaili, Fiqih al-Islam wa Adillatuhu Juz I, Beirut: Dar a-Fiqr, 1985, hlm. 508.

[9] Imam Nasa’i, An-Nasai (juz 1, hal. 255).

 

[10] Imam Muslim, Shahih Muslim, juz 1, hal. 427.

[11] Ibid.,

[12] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek (Jogjakarta: Buana Pustaka, 2004), hlm. 89.

[13] Dr. Wahbah Zuhaili, fiqhul Islam Wa adillatuhu, juz 1, darl fikr, 1997, halaman 665

[14] Ibid. Hal 666.

[15] Kitab Shohih Bukhori, Bab mawakitus shalat,

[16] Diriwayatkan oleh atturmidzi, dan ini adalah hadits shahih. Imam as-Syauqani juga menyebutkan sekitar 16 hadits tentang shalat wustha (kitab nail al-awthar 1/311)

[17] Dr. Wahbah Zuhaili, fiqhul Islam Wa adillatuhu, juz 1, darl fikr, 1997, halaman 665

[18] Syamsudin As-Sarakhsi, Kitab Al-Mabsuth Juz 1-2,  Beirut Libanon : Darul Kitab Al-Ilmiyah, hlm 143

[19] Selengkapnya baca Wahbah az-Zuhaili. Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, cet. II Beirut : Dar al-Fikr, 1989, I : 509. Baca juga Hasbi ash-Shiddiqie. Pedoman Salat, cet. X , Jakarta : Bulan Bintang, 1978, hlm. 128. Perhatikan pula Saadoe’ddin Jambek, Salat dan Puasa di daerah Kutub, cet. I, Jakarta : Bulan Bintang, 1974, hlm 9.

[20]  Muhammad Jawa Mughniyyah, Fiqih Lima Madzhab, Diterjemahkan oleh Masykur dkk dari Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Khamsah, Jakarta : Lentera, cet VI, 2007, hlm 74

[21] Imam Abi Abdillah Muhammad Bin Idris Asy-Syafi’I, Al-Umm, Beirut-Libanon : Dar Al-Kitab, Juz I, t.th, hlm 153

[22] Ibid

[23] Wahbah Zuhaili, Al- fiqih Al-islami Wa Adillatihi, jilid I (thaharah dan salat), Bierut : Dar Al-fikr, hlm  666

[24] Ibid., Lihat juga Mohmmad Ilyas, A Modern Guide to Islamic Calendar, Times & Qibla, 1984.

[25] Susiknan Azhari,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s